My Journey..

24 March 2010

Me and Extreme Rides

When : 2006-2009
Where : Indonesia, Japan

I can say that I’m an adrenaline junkie! Gw paling hobi main ke amusement park, dan nyobain wahananya satu persatu. Semakin “mengerikan” suatu wahana, semakin menantang dan semakin seru pastinya! That’s why I don’t really like Disneyland, because it’s kinda childish and boring 😦

Lucky for me, Jepang merupakan negara yang punya sederet theme park, dan beberapa roller coasternya bahkan pernah tercatat di Guiness Book of World Record, sebagai yang tercepat, tertinggi, ataupun terpanjang.

Described below are currently my most-fave-rides, sorted in descending orders :

10. Obakeyashiki, Fujikyuu Highland (Amusement Level : 3)
Yang satu ini nggak bisa dikategorikan sebagai “ride” sih, soalnya ini adalah rumah hantu yang bentuknya rumah sakit. Standar? Not really. Rumah sakit yang satu ini punya jalur yang panjangnya 700m, and it took me around 30 minutes to complete one round! Bahkan kabarnya sekarang sudah “diupgrade” menjadi 1km dan kira2 perlu waktu satu jam untuk menamatkan dari pintu masuk sampai keluar. Dan mereka begitu canggih dalam membangun rasa ketakutan para “pasien”nya. Hampir semua yang berhasil keluar dari rumah sakit ini nangis jejeritan! Gimana nggak bikin penasaran? Well, I definitely am not a big fan of rumah hantu, but this definitely is one of the best. But somehow, karena terlalu panjaaaang dan laaaamaa, it’s getting boring (for me). Jadinya pengen cepet2 keluar bukannya krn ketakutan tapi justru karena bosen. But still, dekor set, tata lampu, tata suara, make-up dan kostumnya patut diacungin jempol.

9. Journey to the Center of the Earth, Disneysea Tokyo (Amusement Level : 4)
Diadaptasi dari film berjudul sama yang dibintangi oleh Brendan Fraser, coaster ini memang mengajak penumpangnya untuk turun ke dasar bumi yang paling dalam. Meskipun rute coasternya bisa dibilang standar (nggak terlalu banyak putaran atau belokan tajam), tapi dengan kecepatan yang lumayan tinggi (75km/h), durasi yang cukup (sekitar 3menitan), dan kejutan yang manis di akhir, untuk ukuran wahananya Disney, this ride was quite enjoyable!

8. Hollywood Dreams, Universal Studio Japan (Amusement Level : 5)
Waktu gw kesana, hypercoaster 0G (zero-gravity) ini masih baru2nya dibuka. Wajar, ngantrinya jadi panjang buanget! But it was worth it! Dengan seat yg cukup lebar dan menutupi sampai kepala, di sebelah kiri dan kanan atasnya ada speaker, dimana sebelum mulai meluncur, kita bisa memilih lagu yang mau kita dengarkan sepanjang permainan. Dan serunya, irama lagunya somehow cocok sama gerakan coasternya. So fun!

7. Bali Slingshot, Legian (Amusement Level : 5)
Bisa dibilang, wahana ini menggunakan prinsip dasar ketapel. Slingshotnya sendiri berbentuk rangka bola raksasa terbuat dari besi, dengan dua seat yg masing2 dilengkapi dengan safety belt. Kemudian, ketika mesin dijalankan, itu adalah saat dimana karet ketapelnya ditarik. 3, 2, 1, GOO!! Bolanya terlontar ke atas sampai setinggi 52m, kemudian mengayun-ngayun jungkir balik untuk sekitar satu menit. It was fast, but it felt really good. Sayang, mungkin karena kurang tinggi, jadi daya lontarnya cepat habis, the fun wasn’t last that long. Mungkin next time harus coba yang di Clarke Quay (mahal sih!)

6. Tornado, Dunia Fantasi Jakarta (Amusement Level : 6)
I dare say, this is my most fave local ride, at the moment. Untuk ukuran Dunia Fantasi yang rata-rata wahananya berusia bahkan lebih tua dr umur gw *lebay*, wahana terbarunya ini termasuk yang cukup luar biasa. Walaupun sempat ada gosip-gosip soal malfungsi Tornado (bahkan kabarnya sampai ada yang meninggal), I don’t really care. Konsepnya sih kurang lebih sama seperti namanya, gerakannya seperti tornado yang muter-muter di satu poros naik-turun, dengan kapasitas 40 orang, tinggi 17m, jenis suspended twist arm ditambah special effect berupa water fountain (lumayan kalo lagi panas2nya). Naik satu kali saja memang tidak pernah cukup. Untungnya waktu main kesana, Dufan pas lagi agak sepi, jadi bisa naik lagi dan lagi ^^.

5. Dodonpa, Fujikyuu Highland (Amusement Level : 6)
Wahana ini pernah tercatat di Guiness Book sebagai roller coaster yang tercepat di dunia. Dan kenyataannya? Memang cepat! Dengan kecepatan 170km/h, Dodonpa memang sebegitu cepatnya, bahkan terkadang ada penumpang yang nggak sadar kalau di tengah2 jalurnya ada tanjakan 90-derajat! Bahkan wahana ini pun sudah mengintimidasi calon penumpang sejak dari antriannya. Sepanjang mengantri kami disuguhi theme songnya yang bener2 bikin kimochiwarui (perasaan jadi nggak enak). Begitu naikpun, coasternya nggak langsung meluncur dengan cepat. Penumpang dibawa perlahan ke suatu belokan, lalu disitu ada “landas pacu” seperti pesawat, kemudian terdengar countdown : 3,2,1, (jeda sepersekian detik). DASH! Yang terasa cuma angin kencang menerpa. Luar biasa!

4. Fujiyama, Fujikyuu Highland (Amusement Level : 7)
Ini mungkin adalah rollercoaster tertua yang ada di Fujikyuu Highland (launching tahun 1996), tapi sampai sekarang masih tetap jadi favorit, karena memang luar biasa menyenangkan dan pernah tercatat juga di Guiness Book sebagai rollercoaster tertinggi (78m). Karena sudah agak tua, kenyamanannya sih agak kalah ya sama mesin2 baru, sehabis naik pasti lumayan sakit karena terbentur kiri-kanan, tapi soal keamanan nggak usah diragukan, penumpang wajib melepas segala macam jam, kalung, topi, syal, dan mengosongkan kantong baju/celana. Bahkan beberapa orang teman yg berjilbab sempat diwajibkan untuk melepas jilbabnya atau mereka tidak diperbolehkan naik (khawatir kalau-kalau nanti jilbabnya lepas di tengah jalan bakal nyangkut di relnya dan membahayakan penumpang lain), tapi untungnya akhirnya mereka diperbolehkan naik dengan syarat mereka harus memakai jaket bercapuchon, dan mengancingkan jaket tersebut rapat-rapat. Fujiyama juga berhasil “mempermainkan emosi” penumpang, dengan sengaja memasang label ketinggian di sebelah kanan relnya, seakan-akan penumpang diajak ikut berhitung, 50m, 60, 70m, lalu kereta berhenti sesaat di puncak, dan penumpang pun disuguhi pemandangan Gunung Fuji yang cantik tepat berdiri di depan mata (nggak heran kan dikasih nama Fujiyama) sebelum akhirnya kereta meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi (130km/h). Bener2 bikin pengen naik lagi dan lagi!

3. Blue Fall, Hakkeijima Sea Paradise (Amusemente Level : 7)
Yang bikin pengen dateng ke Sea Paradise ini sbenernya rollercoasternya. Tapi kecewa berat krn ternyata itu basi sebasi2nya, bahkan Cuma bikin badan sakit-sakit dan justru mual krn kelempar kiri-kanan doang. Bgitu sampai disana, ternyata ada tower yang berdiri tegak di tengah taman. Yes, it’s the Blue Fall, free fall tower. Nope, bukan free fall macam Tower of Terror-nya Disneysea yang cuma dienjot-enjot aja, tapi penumpang benar-benar dijatuhkan dengan kecepatan 125km/h dari ketinggian 107m hanya dalam hitungan detik saja. Rasanya jantungnya masih ketinggalan di atas deh..

2. Thunder Dolphin, Tokyo Dome City (Amusement Level : 8 )
Berkali-kali datang ke Tokyo Dome, tapi selalu kelewatan untuk nyobain wahana2nya yang keren-keren. Sampai akhirnya kesampaian juga, sayang Cuma bisa nyoba satu hypercoaster yang satu ini aja, krn Linear Gale (Inverted Shuttle coaster) lagi maintenance  Tapi Thunder Dolphin juga tidak mengecewakan, at all! Ketinggian (79m), speed (130 km/h), loop, dan durasi yg panjang, it’s all there! Mau banget naik lagi!

1. Eejanaika, Fujikyuu Highland (Amusement Level : 8 )
This, definitely, is my most favourite ride! Fourth-dimension coaster setinggi 75m ini punya 14x loop, dengan kecepatan 125 km/h, jadi pastinya penumpang dijungkir balikkan berkali-kali, 360-derajat! But it felt realllyy goood! Dan kursinya menghadap ke belakang, so we never really know what’s coming. Seru abis! Sayang durasinya yang nggak sampai dua menit itu kayaknya kok terlalu pendek ya, padahal ngantrinya bisa sampai 3 jam! But still, it’s worth it! Totally!

Yang sampai sekarang masih mencadi idaman adalah Six Flags di US.. Ugghh.. Kingda Ka-nya bikin penasaraaann!!! Belum kesampaian juga nyobain bungee jumping, sama G-Maxnya Clarke Quay. Sekaligus menunggu Battlestar Galactica-nya Universal Studio Singapore dan The Dragon Challenge-nya Harry Potter World! Can’t hardly wait!

Cheers,

Esti

Advertisements

23 March 2010

Me and Osaka, pt.2

Filed under: Japan — Tags: , , , — Esti @ 1:00 pm

When : Agustus 2007
Where : Osaka

This is another story of how Osaka and I never have a nice relationship.
(For the previous story, read it here)

So it was summer holiday, and we went to South Korea for a vacation. Kami ambil paket tur yang super murah (totalnya nggak sampai 30ribu yen per orang utk tiga hari paket tur including return flight with Asiana Airlines, akomodasi plus makan)

So, setelah tiga hari muter-muter di Seoul dan sekitarnya, kami kumpul di hotel untuk berangkat bareng ke bandara. Ternyata, sampai di bandara, malah dapat bad news about Japan. Ternyata di Tokyo lagi ada typhoon gede banget, sampai2 semua transportasinya lumpuh, dan Narita DITUTUP. Jadilah kami nggak bisa pulang (Oh, no! Nyangkut di negeri orang, that’s so not funny!) Tour Leadernya nawarin dua options, balik hari ini tapi ke Osaka, atau balik ke Narita besok (tanpa ada jaminan besok Narita sdh dibuka, bisa2 tetap di defer ke Osaka juga). So, berhubung menurut gw, mendingan terdampar di Osaka (at least sudah pernah kesana dan bisalah survive, somehow) daripada luntang lantung ga jelas di Seoul. Jadilah kami dengan pedenya ambil flight hari itu juga ke Osaka.

Sampai di Osaka, well, it was quite a mess. Orang2 yg mau ke Tokyo juga semuanya sibuk nyari alternatif supaya bisa sampai kesana. Flight jelas ga mungkin (selain bandaranya tutup, mahal gila!), we thought about shinkansen (lumayan mahal sih, tapi cepat sampai) tapi ternyata line keretanya juga masih ditutup krn efek typhoon. Akhirnya memilih alternatif terakhir, naik bus (oh yes, ketemu lagi sama bus malam dari Osaka.. Nice..) Ternyata bus yang available baru ada besok pagi, krn malam ini mereka belum berani jalan mengingat kondisi cuaca yang masih kacau balau. Fine, akhirnya kami beli tiket untuk bus yang besok pagi2. Tinggal mikir gimana caranya melewatkan satu malam ini.

Sbenernya ada teman yang tinggal di Osaka juga, tapi apartemennya cukup jauh dari pusat kota, dan nggak enak juga kalau tiba-tiba ngerusuh disana bawa rombongan. But then, my friend said quite a wonderful idea. How about staying in one of the internet cafe? She went there once, and it was quite OK, you pay some amount, and you’ll get internet connection, TV, shower, drinks, comics, magazines, and some cafe even have massage seat! How nice is that? Jadilah kami muter-muter nyari itu internet cafe. And true, cuma dengan seribuan yen, we can stay there for up to 10hrs, and free usage of their facilities. Murah banget dibandingin dengan harus nyari hostel yang paling nggak harus bayar skitar 2000yen per night.

Tapi berhubung waktu sewanya cuma maksimal 10jam, dan kami “check-in” sekitar jam 7 malam, maka jam 5 pagi harus keluar dan kelayapan sendiri sambil nunggu jadwal bus yang berangkat jam 8. Then McDonalds came into handy! Sambil sarapan dan setengah lanjutin tidur, kami geletakan di McD dekat stasiun.

Skitar jam 7an kami menuju ke bus terminal, and guess what? Another bad news. Busnya belum bisa jalan juga karena jalanannya masih ketutup! What the?? Argh! Lagi2 harus mencari alternatif lain untuk bisa sampai ke Tokyo krn mau ga mau gw hrs sampai di Tokyo malam itu juga krn besokannya Anggy balik ke Indo, so tonight’s the last chance to see her in Japan. Blingsatan lagi muter2 stasiun. Man, kayanya gw hafal deh seluk-beluk itu stasiun saking seringnya nyangkut disitu *sombong*

Ternyata shinkansen sudah beroperasi lagi hari itu, tapi semuanya non-reserve seat, jadi lo boleh naik kereta yg manapun, jam berapapun, duduk dimanapun. Terserah. Finally, we bought the ticket yg lumayan mahal, 13ribuan yen *dompetkumenangis* dan masuk ke platformnya. RAME BANGET! Itu antrian udh kaya kereta Jakarta-Bogor kalo lagi rush hour. Dan berhubung semua orang buru-buru, jadi mereka asal masuk aja kereta yang pertama datang. Sukses lah kami berempat berdiri krn nggak dapat duduk, dan kejebak di smoking cabin yg penuh asap rokok! Crap! Udah gada bedanya sama naik Mayasari Non-AC di Jakarta! And I thought shinkansen would be a comfy way to travel! *sigh*

Cheers,

Esti

22 March 2010

Me and Osaka, pt.1

Filed under: Japan — Tags: , — Esti @ 12:13 pm

When : April 2007
Where : Osaka

This one is about how Osaka and I never have a nice relationship.

Ceritanya, waktu itu lagi libur musim semi, dan kami jalan-jalan ke daerah Kansai (Jepang bagian Barat) dan ditutup dengan main2 di Universal Studio Osaka sebelum kembali ke Tokyo dengan bus malam.

Berhubung sistem transportasi di Jepang itu serba rapi dan teratur, namanya kereta juga selalu pas jadwal, jadinya kami pede, pagi2 check-out dari hostel, taruh barang di coin locker, kemudian seharian main di USJ, kembali ke stasiun untuk ambil barang, kemudian ke terminal utk naik bus malam.

Begitu keluar dari USJ, kami langsung naik kereta untuk menuju ke terminal bus. Tapi kok kenapa keretanya berhenti lama skali ya? Awalnya nggak curiga apa2. Tapi kemudian celingak-celinguk dan mulai mendengarkan pengumuman dr petugas stasiun. Crap! Ternyata krn ada org yg jisatsu (bunuh diri) di salah satu line kereta, jadinya line2 yg lain ditutup sementara utk ngebersihin dulu sampai linenya clear baru dibuka kembali.

Putar-putar otak sambil buka-buka peta. Berhubung line di Osaka itu nggak sebanyak line di Tokyo, jadi agak sedikit susah juga cari alternatif jalur kereta kalau satu line udh ditutup. Tapi ternyata jalur tetangga masih dibuka, orang2 juga rebutan pindah kesana, kami ikut2an. Begitu sudah beli tiket, double crap! Ternyata linenya ga jalan juga! Berhubung itu udh malam, bus juga pasti udah ga beroperasi lagi, maka alternatif terakhir adalah taksi. Sayang seribu sayang, semua orang juga berpikiran yang sama. Dan jeleknya lagi, orang Osaka nggak seteratur orang Tokyo dalam urusan antri mengantri. Mereka lebih mirip orang Jakarta! Apalagi kondisi kepepet kaya gini, semua orang sibuk sodok kiri-kanan, bahkan mereka nyetop taksi bukan dari tempat antriannya! Panic level : HIGH. Kalau nggak cepat dapat taksi, bisa2 kami ketinggalan bus ke Tokyo!

Berhubung semua orang sudah nggak karuan kelakuannya, maka kami pun ikut2an sembarang nyetop taksi. Ketika akhirnya berhasil ketemu satu taksi, itu sudah kurang 5menit dari jadwal busnya berangkat! Maak! Dan bener aja.. Bgitu sampai di terminal, sayonara bus.. Busnya udah jalan dong.. Ya iyalah, what do you expect? Mereka bakal nungguin 3org bodoh yg lagi lari2an ngejar bus? Not a chance.

Akhirnya kami berusaha merengek2 sama petugas tiketnya, berharap kami bisa dapat dispensasi. We totally didn’t expect someone would kill himself and blocked all the train line, did we?? Tapi namanya juga org Jepang, mereka strict banget soal jadwal ini, dan mereka agak2 bete sama kebodohan2 orang asing (baka gaijin datte..) Tiket lama kami tetap dianggap hangus, dan kalau mau ya harus beli tiket baru (yang harganya kira2 8000yen pertiketnya) Man, we totally run out of money! Aku terdampar di Osaka!

Nggak berapa lama, ternyata ada ibu2 yang mengalami hal yang sama spt yg kami alami. Dia juga ketinggalan bus krn si org bunuh diri. Berasa ada teman senasib sepenanggungan, kami nebeng complain ke petugas tiket. Dan akhirnya berhasil! Si bapak tiket bersedia utk ngasih kami tiket untuk bus jam selanjutnya, tapi kami harus bayar selisihnya. Lumayan, cuma perlu bayar sekitar 3000yen per tiket. Tapi berhubung nggak ada lagi yg pegang uang cash (well, siapa yg ngira bakal hrs keluar uang lagi in the end of our journey?), akhirnya kami bertiga sibuk pontang-panting lari-lari di stasiun untuk cari ATM. FYI, (waktu itu) nggak semua ATM di Jepang buka 24jam, jadi kalau malam2 mau ambil uang di ATM itu susahnya setengah mati. Waktu itu sbenarnya gw pegang dua rekening, ada dari kantor pos sama bank swasta, jadinya bisa dicari alternatifnya yg mana yang buka. Tapi sialnya, si kartu suka berkhianat! Kadang2 dia mogok, berantem sama mesin ATMnya, jadi itu kartu ga mau kebaca! Not this time, please!! Sudah dapat kesempatan beli tiket murah, malah ga pegang uang sama sekali! Mau nangis rasanya! Huhuhu..

Untungnya waktu itu Cici akhirnya berhasil ketemu ATM banknya dia dan bisa ngecover untuk biaya tiket kami bertiga. Mepeett banget sama jam keberangkatan busnya, akhirnya kami berhasil juga dapat tiket untuk pulang ke Tokyo! Pheww… What a relief!

At time like that, gw ngerasa Jakarta lebih praktis kalau-kalau ada emergency. Nggak ada orang bunuh diri yg terus matiin sistem transportasi, ojek selalu siap 24jam, dan ATM nggak pake tutup.

Cheers,

Esti

21 March 2010

Me and Ski

Filed under: Japan — Tags: , , , , — Esti @ 11:14 am

When : December 2006
Where : Nagano

This one is about my first-ever-ski-trip. Maklum, namanya juga org yang seumur hidup tinggal di negara tropis. Sudah barang tentu menjadi dambaan untuk melihat yang namanya SALJU! Dan kepingin banget nyobain winter sport such as ski and snowboard. Jadilah gw tidak melewatkan berski ria when the chance finally came knocking into my door.

Dari Tokyo berangkat naik bus malam ke Nagano (I forget where to exactly, but it’s supposed to be Hakuba or somewhere nearby). Sampai disana sekitar jam setengah lima subuh. Ternyata nggak sedingin yang gw kira, padahal perkiraan cuaca bilang suhunya bakal dibawah lima derajat. Pls note : gw punya resistansi yg cukup tinggi utk udara dingin, jd mungkin sebenarnya itu DINGIN, tapi berhubung over-excited ngeliat salju *norak* Jadinya ga segitu berasa dinginnya.

Deg2an, pastinya. Setelah semua persiapan beres, snow I’m coming!! Sungguh itu yg namanya papan ski panjangnya amit2, bikin kepleset sana sini. Akhirnya gw pegangan bar yang seharusnya buat meletakkan papan ski untuk jadi pegangan biar ga kepleset. Jangankan meluncur, jalan aja sulit, secara papannya panjang banget, mau ngangkat kaki pun susah!! Sementara orang2 dah pada mulai naik lift utk ke atas, gw masih ga bisa jalan. Setiap kali dah berhasil naik, trus dengan sukses meluncur turun lagi. Sungguh konyol!! Sampai bapak2 yang jaga lift itu ngasih tips macem2, tetep aja ga bisa! Sebel banget! Sampe akhirnya ketika gw dah sedikiiiitt lagi mencapai lift, ditarik aja gitu sama bapak2 yang jaga lift, krn udah capek kali ya ngeliat gw dari tadi ga bisa2.

Yeah, stelah sukses naik lift, ketidaksuksesan berikutnya adalah turun liftnya. Nyungsep dengan suksess!! Untung ga kepentok lift berikutnya. And guess what? Turun ke bawah LEBIH SUSAH daripada naiknya!! It’s like a neverending torture for me!! Berkali2 jatuh dan susah banget berdirinya!! Asli capek banget, cuma berdiri sebentar, jatuh lagi, berdiri, kepleset, begitu berulang2. Jadi kalau udah jatuh gw suka pasrah aja duduk dulu lama, ngliatin orang2 yang pada meluncur dengan enaknya, abis males berdiri. Sampai akhirnya gw menyerah, gw copot itu papan, trus gw berniat jalan lagi naik ke atas, trus make dari atas baru turun lagi. So stupid! Begitu sampai atas, dengan sotoynya gw sok-sokan ngeluncur. TAPI GA BISA NGEREM!! Mampus! Sukses lah sampai bawah lagi dengan guling2an berkali-kali.

But this stupid girl just wouldn’t give up, would she? Nope, gw mencoba lagi berjuang untuk naik lift ke atas. Sedikit lebih mulus daripada yang pertama. Pepatah berkata, pengalaman memang guru yang terbaik! Dan kali ini gw cukup berhasil meluncur, meskipun kendalinya masih berantakan. Tiba2… BRUAAAKKKK!!!! Tabrakan aja gitu sama ibu2!! Dan itu ibu2 pas gw liat, mampuss!! Lagi terkapar tak bergerak sama sekali. Ugghh, shit. Kontan gw lepas papan ski gw trus gw lari samperin dia. Untungnya dia sadar, gw berjuta2 kali minta maaf, krn gw ngerasa itu salah gw krn ga bisa ngerem. Sampai akhirnya Herry manggil patroli dan itu ibu2 dibawa ke P3K. Trus dateng suaminya, yang gw dah serem aja dia bakal ngamuk ato gimana. Tapi trus dia bilang, kalo kamu ngga apa2 ya bagus, jadinya mulai sekarang masalah kamu ya masalah kamu, ini masalah kita biar kita aja yang nanggung. Toh namanya juga maen, ini tanggung jawab 2 orang. Saya ga bakal sampe bawa kamu ke polisi, ato nuntut kamu, ngga usah khawatir. Pheww.. Thanks God!

Besokannya, sedikit kapok sama ski yang-ga-berhasil-ditaklukan-meskipun-udh-main-seharian-sampai-nabrak-orang, gw memutuskan pindah ke snowboard. Katanya orang2 siih, snowboard lebih gampang drpd ski, jadi gw cukup berasa tenang. Tapi… Sulit juga ternyata! Krn kaki lo dua2nya diiket gitu kan ya. Tapi dengan modal sotoy, sok2an niru2 org lain, trus langsung dengan pedenya naik lift ke atas. Bgitu mau turun dari lift, alhasil dengan sukses terjungkang!! Tapi kesotoyan emang ga pernah habis, dengan PD jaya, siap berdiri dan meluncur. Man, ternyata beneran lho snowboard lebih asik dan lebih mudah dipelajari drpd ski. Kalau jatuh lebih mantap sih sakitnya, krn langsung gegulingan. Tapi asli lebih asik!! Asli nyeselll, ga dari kemaren kita menuruti nasihat org2 yg bilang ambil snowboard aja. I’ll definitely go snowboarding again! Gw bahkan sudah memutuskan, when its time for me to live in a four-season country, I’ll definitely buy all those snowboarding equipments! *gayabanget*

Cheers,

Esti

Create a free website or blog at WordPress.com.